There's always a better way

Sambal Bajak

Sambal bajak adalah jenis sambal yang bisa diandalkan oleh ibu-ibu banyak acara macam aku. Selain bisa dikonsumsi sebagai sambal sesuai namanya, sambal bajak ini bisa digunakan sebagai bumbu dasar untuk nasi goreng, sambal goreng, atau masakan lainnya yang memerlukan bumbu yang mengandung bawang merah, bawang putih, cabe dan terasi.

image

Menyimpan stok sambal bajak ini sangat menguntungkan. Kita bisa menghemat banyak waktu memasak. Membuat nasi goreng jadi lebih praktis, tak perlulah pakai bumbu instant nasi goreng yang banyak mengandung vetsin. Lebih sehat, dan sama praktisnya.

Gampang cara membuatnya… cukup haluskan bawang merah, bawang putih, cabe, tomat, terasi, garam dan gula. Lalu tumis sampai kering. Terakhir, tuangkan minyak kelapa untuk mematangkan. Menumisnya harus sampai tanak betul, supaya sambal bajak lebih awet. Simpan di wadah bertutup di dalam lemari es. Stok setoples bekas selai ini untuk stok sepekan, atau bahkan lebih. Semoga bermanfaat yaaaa…

Advertisements

Kenapa Harus Dicubit?

Di suatu siang, sepulang Abyaz dari sekolah.

“Aku dicubit lagi sama pak guru.”

“Kenapa begitu, Dek?”

“Karena aku nggak tertib duduk diam. Aku kan bosaaaaaan.”

Di hari yang lain, “Aku sudah hitung berapa kali aku dicubit. Kalau aku masih dicubit lagi, aku bakalan laporin pak guru ke polisi.”

“Lhooo Adek dicubit lagi?”

“Iyaaa… aku mau lapor polisi. Ini kekerasan terhadap anak!!!!!!!”

Uppsss…. sepertinya ada sesuatu yang harus diklarifikasi nih di sekolah, dan saat pengambilan rapor adalah saat yang tepat menurutku karena aku akan bertatap muka langsung dengan guru kelas Abyaz.

“Ibu, kami sering kewalahan dengan tingkahnya Abyaz. Abyaz ini anak yang paling aktif. Tidak bisa disuruh diam. Lari-larian terus. Padahal kalau dia bisa lebih konsentrasi, nilainya akan baik sekali. Terbukti pada pelajaran sains, Abyaz mendapat nilai 100.”

“Saya bisa memahami, pak. Anak saya memang aktif sekali motoriknya. Oleh karena itu sering mendapat hukuman cubit dari bapak ya?”

Lalu kuceritakan apa yang disampaikan Abyaz kepadaku. Kedua guru kelas Abyaz mencatat beberapa poin penting mengenai tipe kepribadian Abyaz yang kolerik sanguinis, mengenai tipe belajarnya yang dominan kinestetis, dan bagaimana cara meng-encourage nya. Pertemuan hari itu diakhiri dengan peryataan maaf dari bapak dan ibu guru atas kesalahan pendekatan yang dilakukan pada Abyaz.

Dua pekan berlalu. Abyaz kembali melaporkan bahwa dia hampir mendapatkan cubitan lagi, tetapi dengan awalan yang berbeda. Sebelum akan mencubit, pak guru bertanya, “Abyaz, kalau sekarang Bapak cubit kamu, siapa yang salah?”

Jawaban Abyaz ternyata melampaui perkiraanku. “Yang salah kita berdua, Pak. Aku salah karena nggak tertib, Bapak juga salah karena nyubit. Aku nggak suka dicubit karena aku bisa dibilangin. Apa nggak ada cara yang lain pak?”

MasyaaAllah… jawaban yang sangat membuatku bersyukur. Ada pengetahuan mengenai benar dan salah di sana. Abyaz memahami kesalahannya, tetapi menolak dihukum dengan cara yang tidak disukainya. Ada keberanian untuk menyampaikan pendapatnya, bahkan kepada gurunya. Memang guru bukanlah manusia sempurna. Guru pun perlu diingatkan, bukan?

Kali ini aku tidak akan mengintervensi kejadian ini dengan melakukan protes karena pak guru masih menerapkan cubitan sebagai hukuman untuk Abyaz. Abyaz sudah menyampaikan dengan sangat jelas protesnya.

Well said, well done Abyaz sayang….. semoga Abyaz bisa lebih tertib nantinya sehingga tidak akan merepotkan gurunya…

Pengantar:

Abyaz menggambar ini dengan program paint di laptop Ibuk. Kemudian Abyaz meminta Ibuk  untuk menuliskan narasi cerita dari gambarnya ini. Idenya mengalir cepat. Senang sekali, Ibuk Dian yang menjadi tokoh utama ceritanya :). Selamat menikmati…
abyaz - ibu dan ayah jalan-jalan ke pulau terapi dan ibu dian lihat ikan hiu biru dikasih makan sama bu dian_pake jaring besar_ abis itu ikannya snyum_ ternyata itu ikan lumba-lumba

 

Buk Dian ketemu lumba-lumba. Buk Dian mau ngasih makan. Ayah meluk Buk dian. Buk Dian hatinya terkejut-kejut. Seekor lumba-lumba senyum. Buk Dian deg-degan, soalnya ikannya cantik banget. Ikannya warnanya biru. Buk Dian suka banget. Kesukaannya warna biru. Akhirnya ikannya ditangkap oleh Buk Dian.

Buk Dian minta dibelikan ikan kecil 20, yang besar 30 kepada Ayah Wahyu supaya Buk Dian senyum terus. Buk Dian suka banget punya ikan, ngasih makanan kue ke ikan. Ikannya suka kue, dihabiskan semuanya. jadinya ikannya besar banget. Ikannya dipelihara terus sampai gedeee banget. Semuanya nggak kebagian kuenya. Abis itu Buk Dian bikin lagi kuenya. Donat rasa Stroberi. Mmmhhhh enak sekali. Tapi Abyaz makan bubur aja.

wayang abyaz

 

Adegan Bima dan Karno bermain bersama.

“Bima, kita main suit yuuuk..”

“Ayook, aku mau, aku mau.”

“Lhoooo kok jari kamu cuma satu? Nanti kamu kalah lho main suitnya,”

“Iya nih, kuku pancanakaku ini hebatnya kalo buat perang doang, Karno. Kalau main suit aku memang kalah terus.”

Lesson learned from Abyaz adalah semua yang terlihat hebat itu pasti punya kelemahan. Termasuk Bima, satria gagah berani itu.

263199_10200530158808662_509796107_n

“Tunggu abang siomay lewat, ya. Nanti kita panggil yang siomaynya enak. Oke?” kataku.

Tak lama terdengar ketukan khas si abang siomay.

“Baaang …! Siomay Abang siomay yang enak apa yang nggak enaaak?” teriak Abyaz tiba-tiba.

Dunia anak berbeda dengan dunia orang dewasa. Mereka berpikir dan bertindak dengan cara mereka sendiri. Mereka sering melakukan hal-hal yang menurut mereka menyenangkan dan hebat, namun ternyata membuat wajah ibu mereka merah padam. Bukan bermaksud tidak sopan apalagi mempermalukan. Mereka hanya belum mempunyai filter seperti orang dewasa.

Tingkah anak-anak pun bisa membuat para ibu mendadak ingin menjadi kura-kura agar bisa menyembunyikan kepala di dalam cangkang. Terbayangkah bagaimana reaksi para ibu ini ketika menemukan si balita bermain-main di dekat eskalator, tantrum ketika berada di pesta, atau menyusu di dada manekin di sebuah supermarket?

Apa pun kata-kata dan ulah memalukan yang dilakukan oleh anak-anak, kasih ibu tak pernah putus.

Dapatkan di Gramedia di seluruh Indonesia yaaa

Stimulasi belajar untuk anak bisa datang dari mana saja, termasuk dari tubuhnya sendiri. Alam ini sangat menarik untuk anak-anak. Mengeksplorasi, belajar banyak hal, sepuasnya. Pertanyaannya, seberapa banyak? Jawaban idealnya tentu adalah sebanyak-banyaknya.

Persoalannya kemudian adalah, apakah orang tua tahu sampai seberapa banyak informasi yang ingin diketahui anak? Kadang kita berpikir bahwa kita sudah cukup memberikan informasi kepada anak-anak, menurut teori “sesuai dengan fase perkembangan kognitif anak”. Kemudian kita merasa “Oh, anak saya sudah tahu tentang ini sesuai dengan perkembangan kognitifnya.”

Tetapi ternyata, anak-anak kita jauh lebih cerdas, jauh lebih besar rasa ingin tahunya daripada yang kita kira. Anak-anak berusaha memecahkan ‘misteri’ mengenai sesuatu itu dengan caranya sendiri yang mungkin caranya mencari tahu itu kurang pas dengan adat, norma atau kesopanan yang berlaku.

Jika demikian, apakah anak yang salah?

Tentu tidak ada yang salah dengan proses dan cara anak belajar. Kita orang tua yang seharusnya peka dengan kebutuhan ini. Orang tua ternyata harus jeli melihat apakah anaknya sudah puas dengan informasi yang didapat, ataukah memang masih banyak lagi teka-teki dalam kepalanya.

PR besar untuk orang tua termasuk saya dan suami adalah bagaimana menghadapi besarnya keingintahuan anak terhadap sesuatu, dimana rasa penasarannya ini ternyata lebih besar dari yang kami kira. Dan ini mungkin menjadi agak rumit dan seru karena berhubungan dengan SEKS.

*Menantikan kepastian terbitnya antologi pendidikan seks anak yang kususun bersama Gita Lovusa dan para kontributor lainnya.

“Ibuk, Alfan mau berhenti langganan katering di sekolah. Boseeeen banget. Terus seringnya nggak kenyang Buk,” begitu kata Alfan pada liburan yang lalu.

Oooh ya baiklah, sayaaang…

Dan mulai semester genap ini aku punya kesibukan baru di pagi hari, menyiapkan bekal makan siang. Aku memutuskan untuk berlatih dulu. Pada saat liburan semester, aku berlatih menyiapkan bekal makan siang untuk Ayah Wahyu di kantor. Lho, kenapa harus latihan? kayak mau tanding ajaaa.

Iya,  harus berlatih karena aku kan nggak setiap pagi punya waktu sangat luang untuk menyiapkan bekal makan siang. Kalau aku kerja, ya harus disiasati keterbatasan waktuku ini. Maka, aku harus bisa menyiapkan bekal ini dalam waktu kurang dari 30 menit, dan semua makanan harus fresh.  

Ini adalah contoh bekal makan siang yang kusiapkan secara cepat. Tips nya adalah perhatikan waktu proses masing-masing persiapan dan pengerjaannya. Isi dari lunchbox ini adalah:

  1. Nasi Putih (sudah dimasak semalam di magic com)
  2. Jagung rebus
  3. Tumis ayam brokoli
  4. Sosis rebus
  5. Scrambled eggs
  6. Salad apel

 

IMG05382-20130104-0604

 

  

Aku menggunakan kompor 2 tungku dan harus kumaksimalkan penggunaannya. Di sinilah kuncinya: tentukan mana pekerjaan yang bisa dilakukan secara paralel dan mana yang tidak.

Jadi pertama yang kulakukan adalah

  1. Merebus jagung di tungku kompor sebelah kiri.
  2. Menyiapkan pan di tungku sebelah kanan untuk menumis brokoli. Sebelumnya aku sudah punya stok bawang putih yang sudah dikupas, jadi aku tinggal memotong-motong bawang bombai, fillet dada ayam dan brokoli. Sreeng, tumis ayam brokoli bisa siap dalam waktu 10 menit, berbarengan dengan matangnya jagung rebus.
  3. Tuang air sisa rebusan jagung, ganti dengan air baru untuk merebus sosis. Merebus sosis ini bisa ditinggal dan hanya perlu sesekali dilirik.
  4. Di tungku kompor kanan, saya mempergunakan lagi pan yang tadi kugunakan untuk membuat telur orak arik. Pan ini sebelumnya cukup dibersihkan dengan lap saja.
  5. Sosis rebus dan telur urak-arik siap dalam waktu yang bersamaan, yaitu 5 menit.
  6. Setelah itu kupotong-potong sebutir apel, lalu  kuaduk rata dengan mayones. Ini hanya perlu waktu 3 menit.
  7. Terakhir, tata semua makanan pada tempatnya. Menata lunch box ini nggak butuh waktu lama. Asal kita sudah hafal bentuk dan ada berapa kompartemen di dalamnya, penataan ini akan menjadi lebih cepat, 5 menit saja.

Naaahhh… maka bekal makan siang ini dapat  diselesaikan dalam waktu 23 menit saja. Keren kan?

Sekarang, aku menyiapkan bekal untuk 3 orang. Kadang, permintaan Ayah, Alfan dan Abyaz bisa berbeda. Nah lhoooo… gimana lagi cara menyiasatinya? Kapan-kapan aku cerita lagi deh… tunggu yaaa…. hihihihihi 😉

indri hapsari

To hope. To dream. To live.

Industrial Engineering

"Industry need not wish" (Benjamin Franklin)

BuFeb's Home

Celotehan BuPeb

Fathia's little cave

I sail the world through the words.

Omnduut

Melangkahkan kaki kemana angin mengarahkan

BASALIM'S BLOG

Daily Life & Learning Blog

M O R E T A

LAKSANAKAN KATA HATIMU

Inge Febria

Rumah Singgahku